DEMOKRASI
YANG FEODALISTIK
DI negeri ini, politik tercabik anomali sikap, laku dan
tindak. Secara formal, politik di negeri ini tegak di atas pelataran demokrasi
yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Pada level nasional maupun daerah,
kepemimpinan politik dipilih secara terbuka dalam ajang kompetisi bebas. Tapi
anehnya, sang pemimpin politik masih bermental feodal, obsesif menuntut
pelayanan dari rakyat, tak terbiasa memberi pelayanan penuh kepada rakyat.
Contoh kongkretnya jelas dan gamblang melekat pada
personalitas politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di tengah kancah
kehidupan rakyat, keberadaan sang presiden diwarnai kekaburan makna ihwal
demokrasi yang semestinya berseberangan dengan feodalisme. Sang presiden malah
mencampur adukkan keduanya menjadi adonan yang teramat janggal. Sekali pun ia
terpilih secara demokratis melalui Pemilu 2004 dan Pemilu 2009, aksi politiknya
tampak ganjil. Bagaimana mungkin ia kehilangan perspektif, bahwa secara etis sesungguhnya
demokrasi mutlak menegasikan feodalisme?
Persoalan ini dapat disimak dari suasana yang mendadak
sontak muncul di Gelanggang Olah Raga (GOR) Ganesha, Kota Batu, Jawa Timur. Sebagaimana
diketahui, GOR Ganesha berfungsi darurat sebagai lokasi pengungsian rakyat sekitar
zona erupsi Gunung Kelud. Di GOR Ganesha itu pula, pengungsi yang jumlahnya mencapai
1.284 orang hidup tidak nyaman, bosan dan letih. Kebutuhan akan Mandi, Cuci dan
Kakus (MCK), yang sesungguhnya sangat vital, ternyata tak terpenuhi sebagaimana
mestinya. Di GOR Ganesha hanya tersedia dua MCK.
Tatkala kemudian tersiar kabar bahwa Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono bakal datang
bertandang, serta-merta GOR Ganesha dipermak melalui cat ulang bangunan gedung.
Tangga masuk turut dipercantik. Petugas dari berbagai instansi tiba-tiba
bekerja super sigap, trengginas. Juga demi menyambut kehadiran sang presiden,
puluhan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) bekerja cepat membangun dua
unit MCK. Halaman GOR yang semula berfungsi sebagai lokasi parkir dokar, kumuh
dan berbau kotoran kuda, dengan segera dibersihkan. Situs berita Kompas.com lantas mewartakan: “Puluhan
petugas baik dari pihak kepolisian, TNI, dan pejabat Pemkot Batu, bahu-membahu mengecat
GOR tempat pengungsian.”
Apa yang bisa disimpulkan dari cerita ini adalah kacaunya
makna fundamental demokrasi akibat masih bercokolnya orientasi feodalistik
rezim kekuasaan. Lokasi pengungsian rakyat terdampak bencana alam semestinya
diskenariokan manusiawi, melalui upaya dan tindakan sadar jejaring kekuasaan
yang merakyat. Aparatur kekuasaan di zona-zona bencana alam bertanggung jawab
penuh memenuhi kemestian tersebut. Demikianlah hakikat dan logika demokrasi, faktor
pendorong tercetusnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa.
Tapi kenyataan yang muncul di GOR Ganesha sungguh
mensinyalkan anomali demokrasi. Jika
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak mencanangkan hadir, maka GOR Ganesha
tetap dalam kondisi semula, dengan warna cat serba kusam. Dan kaum pengungsi
tetap direpotkan oleh tak memadainya MCK. Agaknya, hipokritas “agar bapak
senang” (ABS) masih sedemikian rupa mendistorsi benak aparatur kekuasaan negara.
Dibandingkan dengan terpenuhinya hasrat mengutamakan ABS, eksistensi rakyat
dipandang nisbi, nihil dan nirmakna.
Kita tahu, Indonesia kini berada dalam pendulum historis
yang berbeda secara diametral dengan situasi Orde Baru. ABS tumbuh subur pada
era Orde Baru sebagai akibat logis masih kentalnya feodalisme. Sementara itu,
feodalisme pada era tersebut lebih dimungkinkan tumbuh dan berkembang dengan subur
oleh sangat kuatnya sokongan sistem politik otoritarian. Pelajaran penting dari
keberadaan Orde Baru adalah ini: feodalisme merupakan sisi kelam dari
otoritarianisme. Pada penghujung dekade 1990-an, otoritarianisme Orde Baru
runtuh, tersapu gelombang besar reformasi politik.
Namun sebuah catatan kritis penting disampaikan. Bahwa,
feodalisme tak serta-merta hilang tersapu angin reformasi. Rezim otoriter Orde
Baru boleh saja runtuh, tapi feodalisme mendapatkan celah untuk lahir kembali, mendapatkan
ruang politik untuk direproduksi secara berkesinambungan. Dengan tanpa
mengurangi rasa hormat, haruslah dikatakan bahwa Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono merupakan figur pemimpin nasional yang cacat dalam konteks ini. Ia
tak memilih jalan heroik penuh pengorbanan untuk mencerabut feodalisme hingga
ke akar-akarnya.
Untuk kemaslahatan bangsa ini hingga ke masa depan, tak
terelakkan jika kita kini serius merumuskan format kepemimpinan nasional bebas feodalisme.
Tak pelak lagi, musti ada ketepatan sikap dan orientasi politik. Dalam kerangka
kerja strategis, pilih figur-figur politikus berjiwa kerakyatan, menduduki
tampuk kepemimpinan nasional. Dalam perhelatan Pemilu 2014, figur politikus
semacam itu mutlak didukung, dipilih dan dikawal dengan saksama.
Demi terbebaskannya demokrasi dari feodalisme, jangan
pilih figur-figur politikus narsis yang lebai memoles dirinya dengan gincu
pencitraan.[]
Anwari
WMK
* Anwari WMK (Riset dan Penulisan)
* Meddy Iswandarto (Associate)
* Rayhan Afkar Averoes (Associate)
KONTAK
* Telp: 082113965682, 081808933018
* E-mail: anwariwmk2010@gmail.com
DONASI
* Rek BCA: 0840411109
No comments:
Post a Comment