ARTI PENTING MICROBLOGGING
PADA episode tertentu pertarungan politik antara Anas Urbaningrum melawan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tersembul fakta tentang arti penting microblogging. Pada mulanya adalah tulisan Sri Mulyono bertajuk: "Kejarlah Daku, Kau Kuungkap". Dalam tulisan tersebut termaktub tudingan, bahwa SBY selaku Presiden RI telah mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar segera menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka dalam skandal korupsi Proyek Hambalang. Setelah itu, pengacara SBY, Palmer Situmorang, berbicara ihwal urgensi untuk membedakan secara tajam antara fitnah dan kritik. Sebagai loyalis Anas Urbaningrum, substansi tulisan Sri Mulyono itu, menurut Palmer Situmorang, adalah fitnah terhadap SBY, bukan kritik.
Tak pelak lagi, tulisan Sri Mulyono itu laksana pasokan bahan bakar baru yang kian mengobarkan pertarungan sengit Anas Urbaningrum versus SBY. Menariknya lagi, tulisan Sri Mulyono itu tidak dipublikasikan di media massa mainstream. Sri Mulyono malah menulis di laman Kompasiana. Dan sebagaimana kita tahu, Kompasiana hanyalah sebuah microblogging. Ini sekaligus fakta, betapa kini isu yang terhembus dalam sebuah microblogging bisa dengan serta-merta bernilai superlatif dibandingkan dengan isu yang termuat dalam opini media-media massa mainstream.
Cerita tentang Anas versus SBY hanyalah contoh soal, bagaimana medium penyiaran informasi bergeser sejalan dengan perkembagan teknologi. Dalam konteks Kompasiana, kita menyaksikan bagaimana sebuah media sosial tiba-tiba menanjak perannya, melampaui media-media mainstream. Pertarungan politik tingkat tinggi, tiba-tiba mengambil ranah di media sosial, bukan di media mainstream. Dahsyatnya lagi, secara digital, media sosial dimaksud berada dalam derajat microblogging. Bagaimana kenyataan ini dimengerti?
Dengan mengambil pola jurnalisme warga, langsung maupun tidak langsung, Kompasiana hadir ke tengah kancah publik menandingi induknya sendiri, harian Kompas. Sudah mafhum diketahui banyak orang, Kompas merupakan harian paling terkemuka di Indonesia, leading newspaper di belantika industri persurat-kabaran nasional. Sejak era Orde Baru, Kompas sangatlah besar pengaruhnya terhadap para pihak penentu kebijakan politik dan ekonomi. Dinamika opini publik nasional, telah sedemikian rupa dideterminasi oleh keberadaan harian Kompas. Tapi Kompasiana kemudian hadir bukan untuk melengkapi Kompas, justru malah menandingi keberadaan harian Kompas.
Ada beberapa alasan, mengapa microblogging pada akhirnya berjaya melawan media mainstream. Pertama, sejalan dengan wataknya sebagai jurnalisme warga, microblogging merupakan etalase gagasan dan wacana yang bebas diekspresikan oleh siapa saja dan kapan saja. Suara publik adalah suara Tuhan sesungguhnya dapat ditemukan wujud kongkretnya dalam microblogging. Para penulis microblogging dituntut serius menjunjung tinggi prinsip independensi, obyektivitas dan kejujuran. Pelaksanaan atas prinsip tersebut tak mempersyaratkan penyaringan seperti penyuntingan oleh kalangan editor dalam pola kerja surat-surat kabar.
Kedua, kehadiran microblogging menandai munculnya fenomena baru di sekitar luruh dan punahnya dominasi dan hegemoni jajaran redaktur surat kabar. Terutama untuk artikel opini, kita menyaksikan sangat digdayanya redaktur-redaktur surat kabar. Mereka merasa berhak menolak artikel siapa pun, meski dengan argumentasi penolakan yang sesungguhnya tidak substansial. Maka bukan hal yang aneh jika tak setiap tulisan opini yang ditolak redaktur surat kabar adalah artikel bermutu rendah. Acapkali terjadinya, rendahnya kapasitas intelektual kalangan redaktur menjadi sebab pokok tertolaknya sebuah artikel opini dalam publikasi surat kabar.
Seandainya artikel "Kejarlah Daku, Kau Kuungkap" dikirim ke redaksi surat kabar Kompas, ada kemungkinan publikasinya tidak berlansung segera, secepat publikasi laman Kompasiana. Atau bahkan, artikel tersebut ditolak secara serta-merta, disertai penilaian: tidak layak muat. Tapi dengan demikian pula takkan pernah terungkap sisi lain pertarungan politik Anas versus SBY. Artinya, takkan terungkap opini Sri Mulyono yang merepresentasikan Anas Urbaningrum dan tak tersingkap opini Palmer Situmorang yang mewakili SBY. Sebuah pertarungan politik benar-benar endap di bawah karpet hiruk-pikuk pemberitaan media massa mainstream jika seandainya tak pernah ada microblogging.
Apa yang penting dicatat lebih lanjut adalah maksimalisasi fungsi microblogging. Anak-anak muda berpikiran cerdas dan berwawasan luas sudah saatnya didorong menuangkan gagasan-gagasan brilian dan analisis-analisis otentik ke dalam laman-laman microblogging. Respons secara positif penting diungkapkan agar anak-anak muda itu semakin menemukan eksistensinya dalam serangkaian tulisan yang mereka publikasikan di microblogging. Jika dengan semua ini semakin meredupkan keberadaan surat-surat kabar, maka itulah harga yang harus dibayar.
Hal fundamental yang kini patut digarisbawahi adalah ini. Mari kita songsong kehidupan politik secara lebih baik bersama microblogging.[]
Anwari WMK
REDAKSI
* Anwari WMK (Riset dan Penulisan)
* Meddy Iswandarto (Associate)
* Rayhan Afkar Averoes (Associate)
KONTAK
* Telp: 082113965682
* E-mail: anwariwmk2010@gmail.com
DONASI
* Rek BCA: 0840411109
No comments:
Post a Comment