SBY
DAN BENCANA ALAM
KESULITAN memahami keberadaan seorang pemimpin bidang
pemerintahan adalah tatkala tengah terjadi bencana alam. Ada sebuah kerangka
logis-etis yang meniscayakan pemimpin puncak pemerintahan berjibaku dengan
rakyat mengatasi bencana alam. Terlebih lagi jika ternyata bencana alam menimbulkan
penderitaan terhadap kehidupan ribuan rakyat, maka pemimpin pemerintahan
dituntut mampu berdiri di garda depan dalam keseluruhan upaya penanggulangan.
Logika ini, sayangnya, tidak berlaku bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
(SBY). Pada saat bencana alam tengah melanda wilayah Sumatera Utara, Sulawesi
Utara dan DKI Jakarta, Presiden SBY malah sibuk mengurusi perhelatan Partai
Demokrat di Bali.
Pada Minggu malam (19 Januari 2014), Presiden SBY
bertolak meninggalkan Jakarta menuju Bali untuk keperluan membuka temu kader
Partai Demokrat. Di Nusa Dua, Bali, sekitar 4.500 orang pendukung Partai
Demokrat berasal dari kawasan Bali dan Nusa Tenggara, mengikuti perhelatan temu
kader. Pada acara tersebut, Presiden SBY berpidato dan sekaligus memberikan
pengarahan. Dramatisnya laku Sang Presiden mengabaikan bencana alam itu
tercermin dari rombongan yang menyertainya ke Pulau Dewata. Sang Presiden
didampingi first lady Ani Yudhoyono,
menyertakan putranya yang sekaligus Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Edhi
Baskoro Yudhoyono, diramaikan pula oleh turut sertanya Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral Jero Wacik, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
Syarief Hasan, serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsudin.
Kita sepenuhnya sadar, bahwa serangkaian bencana alam
yang berkecamuk selama abad XXI kini tak semata dipicu oleh sebab-sebab
natural. Selama abad XX, interaksi
manusia dengan alam sepenuhnya bercorak antroposentris. Dahsyatnya ambisi
akumulasi kapital, mengondisikan terbentuknya cetak-biru perekonomian yang
eksploitatif terhadap keberadaan ekosistem. Inilah tragedi ekosistem yang terus
bergulir hingga menerobos spektrum waktu abad XXI kini. Atas dasar itu, sains
dan telaah filosofis lalu sampai pada satu titik kesimpulan: Bencana alam kini merupakan
respons secara langsung terhadap rangkaian yang tak pernah putus penghancuran
ekosistem.
Dengan menyimak konstelasi persoalan tersebut, maka
sesungguhnya clear and distinct
kedudukan, fungsi dan peran pemerintahan. Kepemimpinan dalam sektor
pemerintahan merupakan bagian integral dari solusi kehancuran ekosistem. Cerdas
tidaknya kepemimpinan bidang pemerintahan lantas ditakar dengan kesigapan menghadapi
bencana alam, serta kuatnya kehendak untuk mengatasinya secara saksama bencana
alam. Pembiaran bencana alam, dengan alasan apa pun, merupakan pengingkaran terhadap
kerangka logis-etis keberadaan pemerintahan pada abad XXI. Celakanya, pembiaran
inilah aura yang melumuri kepemimpinan SBY dalam bidang pemerintahan.
Selama kurang lebih satu dasawarsa berjalan, sebagai
bangsa kita disuguhi oleh satu hakikat yang aneh dan janggal berkenaan dengan
kepemimpinan pemerintahan. Karakter personal sang pemimpin pemerintahan jauh
dari amanat penderitaan rakyat. Sang pemimpin tersebut, SBY, adalah sosok wrong man dalam kancah pemerintahan pada
sebuah bangsa multikompleks. Ia menikmati posisinya sebagai presiden, melalui
cara penyikapan yang hedonistik, bukan heroistik. Sebagai akibatnya, ia gagal
menghayati penderitaan rakyat yang paling mendasar.
Logika sosio-kultural mempertontonkan fakta bahwa
Indonesia merupakan sebuah negara-bangsa heterogen dalam berbagai aspek dan
dimensi. Terbentuknya kepemimpinan pemerintahan bukan saja mempersyaratkan
adanya pemahaman secara mendalam terhadap hetetogenitas itu. Di atas segalanya,
sang pemimpin pemerintahan dituntut mampu menjamin keutuhan makna heterogenitas
sebagai dasar bagi tegaknya humanitas. Bencana alam merupakan contoh hadirnya
kekuatan destruktif yang serta-merta memporak-porandakan humanitas. Tragisnya,
SBY gagal mencerna logika sosio-kultural ini.
Menjelang berakhirnya termin waktu pemerintahan SBY pada
2014 ini, kita lantas belajar suatu hal yang sangat penting. Bahwa model
kepemimpinan pemerintahan SBY yang aneh dan janggal itu bertitik tolak dari
pandangan dunia yang keliru. Karakter personal seorang SBY adalah tipikal
pemburu ketenaran, kemasyhuran dan ketersanjungan diri. SBY adalah sosok yang
amat sangat menikmati pujian serta peduli terhadap gemuruh aplaus atau tepuk
tangan banyak orang. Par excellence,
SBY adalah contoh personalitas politik yang sangat mengagungkan dirinya
sendirinya.
Kita semua telah menciderai keagungan ahlak tatkala pada
2004 dan 2009 memilih SBY sebagai presiden. Tatkala kita kemudian menghendaki
dia mengebrak dengan solusi masalah bencana, agenda yang dilakukan malah
pembiaran rakyat tersuruk nestapa bencana alam. Dilitik berdasarkan perspektif
politik, dia sosok yang tidak relevan dengan ke-Indonesia-an yang multikompleks,
tapi toh kita pilih menduduki kursi kepresidenan. Disimak berdasarkan
perspektif sosiologis, dia lebih cocok tampil sebagai paramount di kalangan selibritas yang nir-pertanggung jawaban logis-etik
kebangsaaan, tapi toh kita pilih menjadi kepala pemerintahan.
Maka, ke depan, sebuah aksioma politik mutlak
diberlakukan dengan kesadaran. Dalam Pemilihan Presiden 2014, jangan pernah
lagi memilih sosok politikus yang terpesona pada pengagungan personalitas
dirinya. Pilih sosok heroistik-humatistik, yang siap menyuguhkan dirinya
sebagai martir pengatasan bencana alam. Siapakah sosok itu? Mari kita cari
bersama mulai kini, dengan bencana alam sebagai momentumnya seleksinya.[]
Anwari
WMK
No comments:
Post a Comment