PERSEPSI
DARURAT BENCANA
RANGKAIAN fakta ini sangatlah jelas dan sekaligus
terang-benderang. Hingga Minggu (19 Januari 2014), hujan deras di kawasan hulu
membuat 13 sungai yang meliuk-liuk di seantero Jakarta meluap-luap tanpa ampun.
Dampak buruknya juga jelas dan konkret, yaitu Jakarta terkepung banjir.
Ketinggian air pada kisaran 5 sentimeter hingga 3 meter, menggenangi kawasan
564 rukun tetangga (RT) di 30 kecamatan. Tatkala jumlah pengungsi korban banjir
mencapai angka 30.784 orang, aktivis media sosial berseloroh lucu dengan meniru
narasi sebuah iklan industri pariwisata: Enjoy
Jakarta!
Tak hanya menimbulkan malapetaka di ibukota, banjir juga
menerjang kawasan-kawasan lain luar Jakarta. Di Kabupaten Subang, Jawa Barat,
banjir memutus jalur Pantai Utara (Pantura). Dengan ketinggian banjir hingga 60
sentimeter, kemacetan lalu lintas membentang hingga 1,5 kilometer. Di Jawa
Tengah, banjir melanda beberapa kawasan di Kabupaten Pakalongan, Kudus, Pati,
dan Kota Semarang. Sementara di luar Pulau Jawa, banjir melanda Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.
Nestapa yang teramat tragis terjadi di Manado, Sulawesi
Utara. Banjir bandang dan tanah longsor, sedikitnya merenggut jiwa 16 orang
warga, serta menimbun 10 orang lainnya. Bukan saja sejumlah jalan terputus
banjir bandang, rumah-rumah juga rubuh bertumbangan. Bencana alam di Manado
itu, memaksa sekitar 40.000 0rang mengungsi untuk menyelamatkan jiwa. Maka,
Manado yang porak-poranda itu, sontak mempertontonkan bencana nasional yang
tiada tara.
Belum cukup drama bencana itu jika tak menyebut erupsi
Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dahsyatnya erupsi Gunung
Sinabung, tampak jelas dari dampak yang ditimbulkan. Tak tanggung-tanggung,
1.204 rumah hancur. Sementara lahan-lahan pertanian rusak berat terpapar abu
vulkanik. Media massa lalu melansir perkiraan, bahwa erupsi Gunung Sinabung
merugikan perekonomian rakyat hingga pada kisaran Rp 20 miliar.
Bagaimana fakta-fakta ini dibaca, dan dimengerti
maknanya? Bagi kita yang berpikiran waras, senarai fakta ini sudah lebih dari
cukup untuk dijadikan dasar menarik sebuah kesimpulan. Bahwa sesungguhnya,
Indonesia tengah berada dalam situasi darurat bencana. Kesimpulan ini tidak
bertitik tolak dari dramatisasi bencana alam. Di atas segalanya, kesimpulan ini
merupakan refleksi dan kontemplasi berdismensi humanistik atas penderitaan para
korban.
Bilamana kita saksama merekam secara acak pengakuan para
korban bencana alam di berbagai kawasan, maka hanya ada satu narasi yang layak
menggambarkannya: “Pilu jiwa manusia Indonesia”. Jika kemudian “manusia
Indonesia” tersebut dimaknai sebagai rakyat nirkuasa, maka kian terasa pilu
jiwa itu. Jauh sebelum timbul bencana alam, rakyat nirkuasa adalah elemen
bangsa ini yang nyaris terlucuti secara total kedaulatannya. Tanpa bencana alam
sekali pun, rezim kekuasaan negeri ini tak memandang penting martabat
kedaulatan rakyat nirkuasa. Dan tatkala bencana alam benar-benar menyeruak
kehidupan rakyat nirkuasa, rezim kekuasaan negeri ini memilih tinggal glanggang, colong playu. Kabur
dan tak peduli.
Secara obyektif, Indonesia kini benar-benar berada dalam situasi
darurat bencana alam. Anehnya, bangunan kesadaran rezim kekuasaan kosong dari persepsi
darurat bencana alam. Dengan demikian berarti, Indonesia sebagai bangsa terjebak
ambigu yang serius. Pada satu sisi, ribuan rakyat korban bencana alam mempersepsi
peristiwa yang mereka alami sebagai darurat bencana. Tapi pada lain sisi, persepsi
rezim kekuasaan belum sampai pada titik kesadaran darurat bencana alam.
Mengapa ini terjadi? Jawabannya jelas dan konkret. Rezim kekuasaan
adalah bagian dari faktor penyebab timbulnya bencana alam. Kedigdayaan politik yang
tergengam di tangan rezim kekuasaan tidak efektif diberlakukan sebagai kekuatan
pemaksa yang mencegah “opera sabun” kerusakan ekosistem. Sudah menjadi rahasia umum,
anasir-anasir koruptif dalam rezim kekuasaan melakukan pembiaran terhadap pengundulan
hutan dan alih fungsi lahan.
Dalam realitas hidup sehari-hari, anasir-anasir koruptif rezim
kekuasaan abai terhadap arti penting manajemen sampah. Bahkan di sebuah pemerintahan
kota, truk-truk sampah hanya fungsional pada hari Jumat. Sementara pada hari-hari
lain dari Sabtu hingga Kamis, truk-truk sampah itu diselewengkan fungsinya sebagai
sarana bisnis pribadi kalangan pejabat. Ribuan warga di kota tersebut lantas merasa
absah manakala melempar berkantong-kantong sampah ke sungai-sungai. Kenyataan ini
berlangsung dari tahun ke tahun, serta mengkontribusi proses pendangkalan daerah
aliran sungai.
Banalitas yang sedemikian rupa itu jelas mempertumpul kepekaan
rezim kekuasaan terhadap faktualitas bencana alam. Tatkala hadir situasi darurat
bencana alam, rezim kekuasaan tidak terlatih memahaminya sebagai sebuah nestapa
yang memporak-porandakan humanitas. Itulah yang kemudian bisa menjelaskan timbulnya
ketidakpatutan yang sedemikian rupa menyeruak ruang publik. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, misalnya, sibuk melakukan peluncuran buku dan menghabiskan waktu demi
mengurusi Partai Demokrat. Inilah sebuah pilihan sikap yang justru berlangsung secara
bersamaan dengan parade penderitaan rakyat korban bencana alam.
Anwari
WMK
No comments:
Post a Comment