SBY, MALAIKAT, DAN ROBOT
PADA mulanya adalah Rizal Ramli, yang dengan nada kritis melontarkan pernyataan pedas. Menurut Rizal Ramli, ada gratifikasi jabatan terhadap Boediono atas dana talangan Bank Indonesia untuk Bank Century. Boediono yang semula Gubernur Bank Indonesia, lantas meraih kedudukan sebagai Wakil Presiden (2009-2014) mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden RI. Atas pernyataannya itu, Rizal Ramli dinilai menyebarkan finah. Tim pengacara SBY di bawah komando Palmer Situmorang lalu mengeluarkan somasi untuk Rizal Ramli.
Tak cukup hanya di situ, Palmer Situmorang juga mengeluarkan somasi untuk Fahri Hamzah. Pokok soalnya juga pernyataan. Sebagai anggota DPR, Fahri Hamzah mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar memeriksa Edhie Baskoro Yudhoyono dalam kaitannya dengan skandal korupsi Proyek Hambalang. Konon, SBY tersinggung berat atas pernyataan Fahri Hamzah. Substansi pernyataan Fahri Hamzah dimengerti sebagai fitnah, bukan kritik.
Dengan dua peristiwa itu, publik kini diperhadapkan dengan dua persepsi atas suatu keadaan. Baik Rizal Ramli maupun Fahri Hamzah, mempersepsi apa yang mereka ucapkan sebagai kritik terhadap rezim SBY. Tapi SBY dan keluarga besarnya, mempersepsi pernyataan Rizal Ramli dan Fahri Hamzah sebagai fitnah tanpa bukti. Dengan demikian berarti, sesungguhnya tengah berlangsung perang persepsi dalam hubungannya dengan kasus korupsi Bank Century dan Proyek Hambalang. Dapatkah publik memetik kearifan hikmah dari timbulnya perang persepsi ini?
Jawaban terhadap pertanyaan ini pada akhirnya mengemuka melalui pernyataan petinggi Partai Demokrat, Max Sopacua. Bahwa, SBY adalah manusia biasa, bukan malaikat, bukan robot. Karena manusia biasa, ia marah tatkala difitnah. SBY bukan malaikat dan bukan robot, yang difitnah diam saja. Atas dasar itu pula, SBY memandang urgen membentuk tim pengacara, sebagai kekuatan penangkis melawan serbuan fitnah.
Ada pengakuan Max Sopacua yang sesungguhnya menarik digaris bawahi lebih lanjut. Kata Max Sopacua, "Jika kritikan menyangkut kebijakan pemerintah, maka wajar kalau SBY dikritik sebagai Presiden RI. Namun jika menyangkut persoalan pribadi atau keluarga SBY, hal itu tidak baik."
Ucapan Max Sopacua ini penting digaris-bawahi, sebab menggambarkan timbulnya ambigu pada personalitas kepemimpinan nasional. Bagaimana pun, sosok seorang pemimpin nasional berbeda dibandingkan dengan sosok seorang profesional. Itu karena, seorang pemimpin nasional adalah teladan kebajikan bagi seluruh bangsa, sementara seorang profesional adalah pelaksana kebajikan untuk ceruk fungsional yang sempit. Sebagai teladan kebajikan, bagi seorang pemimpin nasional tak boleh timbul ambigu antara ruang publik dan ruang privat. Kebajikan dalam ruang publik seorang pemimpin nasional sama dan sebangun dengan kebajikan dalam ruang privat.
Persoalan besar kepemimpinan nasional selama ini terletak pada sempitnya kesadaran. Sang pemimpin nasional mengandaikan dirinya sama dan serupa dengan kaum profesional. Sehingga, seperti kaum profesional pada umumnya, kebajikan dalam ruang publik diamputasi saling keterkaitannya dengan kebajikan di ruang privat. Kesadaran semacam ini abai terhadap potensialitas kebajikan individual seorang pemimpin yang senantiasa memanjang dari ruang privat hingga menjangkau ruang publik. Kesadaran yang aneh semacam ini melupakan kerangka filosofis perubahan alam semesta menggapai kebajikan yang vibrasinya justru bermula dari kebajikan individual seorang manusia.
Sampai kapan pun, kepemimpinan nasional tak semata mempersyaratkan kuatnya profesionalisme. Lebih dari sekadar bertumpu pada prinsip dasar profesionalisme, pemimpin nasional adalah manusia setengah dewa. Pada dirinya tak ada pemilahan antara kebajikan yang bersemayam dalam ruang privat, dan kebajikan yang dirasakan orang banyak di ruang publik. Kesejatian seorang pemimpin nasional adalah keutuhan kesadaran terhadap kebajikan yang melampaui partikukaritas keterpisahan publik-privat. Contoh konkret tentang hal tersebut dapat disimak dari ketokohohan Nelson Mandela di Afrika Selatan, Imam Khomeini di Iran, Mikhail Gorbachev di Rusia.
Maka, semuanya jelas kini. Dari manuver Palmer Situmorang serta mengacu pada ucapan Max Sopocua, agak sulit [dan bahkan tidak logis] memosisikan SBY sebagai pemimpin nasional dalam pengertiannya yang hakiki. Jiwa SBY sendiri lebih memilih bersikap sebagai profesional yang membedakan secara tajam serta memisahkan secara sengaja kebajikan dalam ruang publik dan ruang private. Secara substansial, jiwa SBY sendiri menolak penyikapan sebagai pemimpin nasional, walau masih jua menyandang atribut sebagai pemimpin nasional.
Semoga ke depan, kepemimpinan nasional tidak pernah lagi diisi oleh figur-figur politikus semacam SBY.[]
Anwari WMK
REDAKSI
* Anwari WMK (Riset dan Penulisan)
* Meddy Iswandarto (Associate)
* Rayhan Afkar Averoes (Associate)
KONTAK
* Telp: 082113965682
* E-mail: anwariwmk2010@gmail.com
DONASI
* Rek BCA: 0840411109
No comments:
Post a Comment